Sunday, January 3, 2010

Ocehan waktu waktu


Kopi di dalam cangkirku nampak lebih hitam dari malam. Lebih legam. Tapi tetap tak mampu membuatku berjelaga selayak yang dilakukan malam terhadapku. Malam, selalu berarti banyak bagiku. Ia adalah pengingat waktu waktu yang telah lewat. Waktu waktu yang takkan mungkin pernah dilupakan. Selamanya.

Ahh, aku tak pandai mengungkapkannya dalam kata kata. Bukan karena tak mampu. Tetapi karena aku tak bisa. Aku tak bisa. Mengertikah kau? Bahwa aku terbelenggu!!! Ada ikatan rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Ada sumpalan kain hitam di dalam mulutku. Hingga aku hanya bisa berbisik lirih, sangat lirih. Inginnya aku berteriak sekuat tenaga. Sekeras kubisa. Namun aku tak bisa, aku tak boleh.

Maka, kubiarkan waktu waktu yang tadi itu yang berbicara. Karena aku tak bisa. Waktu, ia bisa menjadi temanku. Tetapi berulang kali pula membuktikan diri sebagai musuhku. Musuh abadiku. Waktu waktu, diamnya bukan berarti tak berarti. Aku, kau, dia, kita atau mereka bisa saja dikalahkannya. Seperti aku. Yang dikalahkannya berkali kali. Dengan telak pula. Bodohnya.

Waktu waktu laksana jam pasir saja. Bukan jam dinding apalagi jam digital. Ia sudah disetel waktunya berapa lama. Pasirnya terlihat bergerak lambat. Tapi perlahan kau akan dikuburnya. Rasanya mengerikan, kawan.

Ahh, ceracauku makin tak keruan saja.

0 comments:

Post a Comment