Showing posts with label ngoceh. Show all posts
Showing posts with label ngoceh. Show all posts

Friday, June 3, 2011

lelah

Kalau matahari sebelumnya begitu hangat. Sekarang, saya justru merasa kepanasan diterpanya. Kalau dulu udara begitu menyegarkan. Sekarang, tak ubahnya kepulan asap pinggiran jalan. Kalau dulu kebebasan begitu nikmat maknanya. Sekarang, tak berarti apa-apa. Saya hanya ingin semuanya kembali seperti dulu. This is not my life. 

Kau boleh bilang saya tak mensyukuri hidup. Kau juga boleh bilang saya tak tahu terima kasih. Boleh juga kau tambahi bahwa saya hanya bisa meratap. Terserah. Yang saya tahu, saya tak menikmati semua ini. Yang saya pahami, saya tak bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.
Read More...

Thursday, May 6, 2010

I'm Back

Hai, semua...
Pasti sudah lama sekali, sampai saya berpikir agak lama untuk mengingat apa email akun blog ini, hehehe... Akhir-akhir ini memang cukup banyak kerja-kerja yang menyita waktu dan pikiran. Sampai-sampai saya tidak sempat (menyempatkan) diri lagi untuk sekedar berbagi di sini. Sudah hampir pertengahan Mei. Perayaan Mayday pun sudah lewat seminggu yang lalu. Setelah itu, saya pun kembali berkutat dengan kerja-kerja magang saya. Sudah tiga bulan lebih seminggu, siapa mengira ternyata begitu cepatnya waktu berlalu. Kerja saya di sini? masih sama, melakukan tugas-tugas asistensi team. Apa lagi yang saya lakukan? Maklum saja, saya memang mahasiswa - jadi saya masih melakukan tugas-tugas selayaknya mahasiswa. Walaupun sekedar menyusun laporan atau konsultasi magang.

Hanya itu? Masih ada lagi ternyata. Meski berstatus freelance, saya tetap harus memiliki tanggung jawab kan? Saat ini saya masih menjadi tentor subject Sosiologi SMA. Cuma Sosiologi dan Geografi yang saya ambil. Saya nggak mau ambil yang lain karena bukan bidang saya. Geografi pun karena bahasannya mengenai pembangunan. hehehe.... Ahh, kenapa jadi bicara soal aktivitas saya ya...Saya menulis ini untuk mulai maintenance blog ini lagi. Oiya, masih menunggu kabar soal terbitnya buku pertama saya. Nggak sabat deyh rasanya... hohoho...setelah ini, blog ini mungkin akan banyak berisi informasi soal pendidikan. Bagus kan? dari pada membaca curcol-an saya terus-terusan, hehehe...
Read More...

Friday, January 29, 2010

Memoar Mahasiswa Terlambat Bayaran

Hari itu saya bangun pagi pagi sekali. Segera menyiapkan diri untuk ke kampus, mengurus surat administrasi magang dan berencana membayar uang kuliah semester depan. Selesai itu, saya harus segera ke kantor tempat saya magang. Tidak ada uang di tangan, hanya selembar slip. Slip yang saya urus sendiri sejak awal bulan Januari. Bisa dibilang, saya menunggu-nunggu waktu bayaran ini. Karena artinya, saya bisa kembali melanjutkan kuliah setelah satu semester vakum. Vakum hanya karena mata kuliah magang yang saya akan ambil hanya ada di semester genap. Dan tidak bisa saya ambil mata kuliah lainnya karena sudah habis. Ini artinya, jika saya tidak magang tahun ini, maka tahun depan lah waktu selanjutnya.


Sambil berdebar menunggu transfer uang ke rekeningku. Jumlah yang mencukupi bayaranku kali ini. Duduk lah saya di dalam ruangan BAAK, menunggu si bapak yang hanya mau melayani pada jam 9 tepat. Meski saya datang 20 menit sebelum jam 9 tepat itu. Lalu, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya. Pengirim ternyata supervisor di tempatku magang. Dia, entah bagaimana caranya, mengetahui kesulitan administrasiku itu dan menawarkan bantuannya. Ahh, sayang saya sudah berada di kampus. Dan menunggu transferan yang tidak sampai sampai itu.

Ba’da sholat jum’at, saya panik. Ternyata tidak ada rekening yang sama dengan yang saya punya. Transfer biasa memakan waktu sampai dengan dua-tiga hari kerja, katanya. Karena kemungkinan itu, saya berusaha meminta perpanjangan waktu pembayaran. Setengah merayu setengah mendebat, tetap tidak ada gunanya. Maklum saya, si bapak itu memang bukan pengambil keputusan. Masih sambil menunggu transferan, saya akhirnya memutuskan meminta bantuan supervisor magang saya itu. Pesan singkat alias SMS pun saya kirimkan. Itu pun setelah susah payah mencari teman yang bersedia mengantarkan dengan motornya. Ahhh, terlambat saya. Supervisor saya itu sedang keluar kantor.

Akhirnya, sambil menunggu transferan itu saya menuju bagian akademik fakultas. Disana, si ibu meminta saya menemui seorang ibu juga di bagian akademik universitas. Tak perlu lah disebut nama, nanti saya dijerat UU ITE juga. Diantar seorang teman sekelas kuliah, saya berusaha menemui si ibu itu. Oalah… ternyata sedang ke puncak. Ke puncak ketika perannya sebagai konsultan mahasiswa bernasib seperti saya memerlukan bantuannya??? Lemaslah saya. Seorang bapak yang nampaknya mengerti kesulitan saya menyarankan agar saya menemui si ibu kepala. Katanya, berdo’a saja semoga dia berbaik kati kali ini. Tersenyum kecut saya melangkah menuju si ibu kepala sedang duduk. Anggap saja ingatan saya buruk, tapi saya merasa tidak pernah ada testimoni yang mengatakan dia punya toleransi soal itu. Dan benar saja, lagi lagi setengah merayu-setengah mendebat saya tak ada artinya. Dalam hati saya sampai bingung, kok bisa ya ada orang yang tidak punya kepedulian seperti itu? Mendengar alasan pun tak mau dia.

Tak ada satu jam sebelum bank tutup. Saya makin panic. Bersama beberapa teman menuju bank di belakang kampus. Satpam bank berbaik hati menunggui kami. Tapi ternyata, uang itu tetap tak bisa masuk. Yakin lah saya, senin baru bisa saya melakukan transaksi itu. Saya tahu ini tak ada gunanya. Tapi akhirnya, saya langkahkan kaki ke ruang jurusan saya. Berharap bisa ada celah dan dorongan jurusan dalam kasus semacam ini. Konsultasi terutama terkait soal kegiatan magang saya yang sudah dua hari berjalan. Mau diapakan ini? Dibatalkan? Atau kah ada kebijakan lain? Karena mata kuliah magang hanya ada di semester genap. Maka saya hanya bisa magang lagi tahun depan. Berharap ada solusi dari konsultasi, tetapi malah dievaluasi. Pantaskah memarahi orang lain karena orang itu tidak punya uang? Sama layaknya seperti kau memarahi orang semata-mata hanya karena dia miskin. Padahal yang miskin itu tidak pernah memintamu memberinya makan atau bahkan sekedar mengasihanimu.

Lelah saya seharian itu. Mungkin tidak banyak yang mengerti. Sebagian besar teman saya memang tidak pernah mengalami kejadian semacam ini. Ada saran saran, misalnya seperti menemui POM. Wah, bukan saya tak pernah mencoba, teman. Beberapa tahun lalu ketika saya punya masalah administrasi juga. Tapi kemudian saya urung, karena ternyata mekanismenya adalah dengan cara menggadaikan ijasah dan lalu diberikan pinjaman. Itu pun tidak membantu keseluruhan biaya administrasi kuliah. Pinjaman? Bukankah setiap semester para mahasiswa diwajibkan membayar iuran POM sebesar Rp. 10.000. Jumlah itu kami bayar tetapi kemudian dari jumlah itu juga kami diberi utang? Bahkan, cerita teman saya yang angkatan tahun 2003, malah disarankan untuk D.O! Alih-alih membantu kesulitan administrasinya.

Saya akui, iuran kampus saya memang lebih murah dibanding kampus negeri lainnya. Yang saya biasa sebut, “kampus negeri bayaran swasta”. Tidak mengapa saya harus menghabiskan masa studi selama 6-7 tahun. Terlebih setelah mengetahui ternyata tema skripsi saya sejak lama keburu jadi penelitian orang lain. Jauh tertinggal dari teman-teman seangkatan saya. Pikiran ini sudah terlintas sejak saya memutuskan melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya hanya takut kehilangan momentum, kehilangan semangat. Ini jauh lebih mengerikan.

Dahulu, seingat saya bersama kawan-kawan masih ada yang mengadvokasi masalah-masalah seperti ini. Sekarang pada kemana, saya juga tidak mengerti. Masing masing berjalan sendiri-sendiri. Padahal jelas yang sendiri itu tidak akan mengubah suatu apapun. Mengutip Proudhon yang sudah saya tambah-tambahi, “perubahan organik bukanlah kerja dari satu orang saja, meskipun ia punya para pewarta dan pelaku-pelaku, tetapi buah dari kehidupan yang universal”.

Dengan raut wajah tak keruan, perut lapar, mulut haus (sejak pagi tidak terpikirkan untuk itu) dan semangat yang hampir padam saya kembali ke kantor magang saya. Sambil belajar menabahkan diri, seperti kata supervisor saya itu. Berharap dosen pembimbing magang saya berbaik hati memberikan solusi. Terus memacu semangat saya pribadi, sembari berdo’a agar tidak ada lagi mahasiswa bernasib se-naas saya di kampus ini atau institusi pendidikan lainnya, dan belajar memaknai sisi positif setiap kejadian (agar tidak terlampau down). Ini saya tulis bukan agar dikasihani, bukan pula upaya mengasihani diri sendiri. Tetapi cara agar saya merasa lebih baik. Dan mungkin, juga agar yang pernah merasakan hal serupa tidak berpikir sendirian. Terakhir, mengutip GM, harapan adalah perlawanan terhadap ketidakmungkinan. Jadi, teruslah berharap. Paling tidak, jadikan sebagai awalan.

Read More...

Monday, January 25, 2010

Apa Guna

Buat apa berkawan, jika tidak peduli apa yang terjadi dengan kawannya.

Kalau boleh, saya akan marah. Tapi tidak, saya tidak akan marah. Marah hanya akan membuat energi saya terkuras habis sia sia. Sebuah kesia-siaan. Kalau saya merasa kesal, tolong maklumi dan maafkan saya. Atas kekesalan yang mungkin membuat perasaanmu tidak nyaman. Sedari dahulu, sejak saya memahami bahwa persahabatan adalah sesuatu yang indah. Saya tidak pernah mengharap apapun darinya. Dan berusaha, semampu saya melakukan yang terbaik yang saya bisa.


Dan juga, jika masih ada sangka bahwa yang kulakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Saya hanya mau bilang, “terserah apa yang mau kau pikirkan, itu kepala milikmu sendiri.. nanti juga kau tahu sendiri”. Aku berusaha sebisa kumampu. Tidak ada pamrih apapun, kawan. Jika pamrih yang kucari, tak mungkin saya mendukungmu selama ini. Lebih lima tahun sejak pertama bertemu.

Saya tak pernah meminta untuk dipahami. Karena saya tahu waktumu terlalu berharga untuk memahami saya. Apalah artinya saya dibanding kerja kerjamu yang mulia itu. Saya juga, tidak pernah meminta apapun darimu. Atas segala kesusahan pribadiku. Saya pikul itu semua sendiri. Dan meski, dua tahun lalu sempat kukabarkan padamu. Betapa berat beban itu, tak juga kuminta kau bantu memikulnya. Sekadar berbagi beban denganku.

Tapi hari ini, aku minta sedikit pengertianmu atas ketidakmampuanku. Seperti kau pahami bahwa anak anak mengemis di jalan bukan karena bolos sekolah, bahwa banyak orang miskin bukan karena malas bekerja. Hari ini, pintaku.. tolong pahami kawanmu ini selayak kau pahami mereka.
Read More...

Saturday, January 23, 2010

Melangkah Kembali


Mungkin hampir setahun lamanya saya tidak menginjakkan kaki di lantai gedung itu. Terakhir kali saya ingat, adalah ketika menandatangani aplikasi beasiswa terakhir saya. Meninggalkan kampus setelah begitu lama. Begitu lama, karena sebelumnya kampus sudah seperti rumah saja. Terlebih menyusuri koridor menuju masjid alumni, dimana di ujung sana, sekretariat redaksi Transformasi pernah berdiri. Sekarang, ruang dua kamar itu telah rata dengan tanah. Hancur sampai teater sastra dan kantin sastra, kantin favorit saya. Konon, akan segera dibangun gedung yang baru. Sayangnya, dibangun dengan dana hasil utang.

Penghuni Trans setelah saya pun terpaksa pindah ke lantai 3 gedung G. Berderet dengan unit unit kemahasiswaan lainnya. Di lantai 3 gedung itu pula, kenangan kembali menabrak ingatan saya. Tentang lembaga kajian yang mengajari saya banyak hal. Tentang masa masa awal perkuliahan saya. Gedung itu, masih kusam namun ramai. Tidak lagi banyak wajah yang saya kenal seperti dulu. Seperti rasa asing ketika saya berdiri di depan gedung K. Menengok ke arah pendopo tanpa banyak kawan saya seperti dahulu. Ahh, saya hampir merasa seperti turis.
Saya lanjutkan langkah, menuju lantai 2 gedung K. Gedung kuliah saya setiap hari dulu. Masih ingat saya berlari lari mencari kelas bersama beberapa teman yang agak terlambat. Sambil berharap dosennya belum datang. Setiap hari, patas 98 yang selalu saya doakan tepat waktu. Karena, keterlambatan kuliah itu 98% bukan karena saya pribadi. Tetapi, karena si patas 98 ini tak datang tepat waktu. Atau, yang paling menyedihkan.. saya tidak bisa ikutan naik karena sudah penuh. Setiap hari seperti itu. Tidak percaya, coba tanyakan pada mereka yang rumahnya sekitar pasar Rebo.
Tiba di lantai 2, ada AM, teman kuliah seangkatan yang juga tertinggal layaknya saya. Lalu datang teman kuliah saya yang selalu masuk 5 besar di kelas. Dia (dan tak perlu heran) tentu saja sudah menyelesaikan studinya. Wah, saya merasa benar benar tertinggal. Tetapi jujur, saya tak menyesali ketertinggalan ini. Bagaimanapun, saya meraih hal yang lain selama masa masa tertinggal itu. Lagipula, saya tak pernah berambisi cepat lulus kuliah. Duduk tepat di depan pintu jurusan, setiap dosen yang melihat saya berkata, “baru kelihatan, kemana saja…” Kemudian, di kelas Dosen PJ magang bilang, “sinting.. kemana aja lu? Kenapa waktu itu nggak sekalian magang?” Saya membalasnya dengan nyengar nyengir, tak ingin memperpanjang pembahasan itu.
Apapun itu, saya kembali, menjadi mahasiswa.
Read More...

Thursday, January 21, 2010

Gerakan Mahasiswa dalam Pembangunan (Penguatan) Civil Society

Sepanjang sejarah, seringkali kaum intelektual termasuk mahasiswa berdampingan dengan gerakan pro-demokrasi dan nasionalis melawan kolonialisme dan otoritarianisme. Begitu pula dalam wacana civil society, gerakan mahasiswa dapat menjadi elemen khusus yang menyumbang pada pembangunan serta penguatan civil society.
Bukan hanya di Indonesia melainkan juga di belahan dunia lainnya. Gerakan mahasiwa memiliki peran yang cukup penting dalam penggulingan Perón di Argentina pada tahun 1955; Pérez Jimenez di Venezuela pada tahun 1958; perlawanan yang sukses terhadap Diem di Vietnam pada tahun 1963;

kerusuhan massif melawan Perjanjian Keamanan Jepang-AS di Jepang pada tahun 1960, yang memaksa pengunduran diri pemerintahan Kishi; gerakan anti-Soekarno pada tahun 1966; kejatuhan Ayub Khan di Pakistan pada tahun 1956; demonstrasi Oktober untuk kebebasan yang lebih besar di Polandia pada tahun 1956; Revolusi Hongaria tahun 1956; dan gerakan untuk pembebasan di Cekoslovakia pada tahun 1968. Juga yang terjadi di Prancis pada tahun 1968, kudeta gagal terhadap rejim Jendral de Gaul.
Dalam sejarah Indonesia, peran penting yang dilakukan mahasiswa dapat dilihat pada penggulingan Soekarno di tahun 1965. Gerakan yang secara tidak langsung berakibat pada lahirnya rejim otoritarian yang berkuasa selama 32 tahun dan pembantaian terhadap massa dan simpatisan PKI selama 1965-1966. Pada awal tahun 1970-an hingga puncaknya pada 1974 yang dikenal dengan peristiwa Malari. Kemudian, pada tahun 1978 ketika mahasiswa melakukan penolakan atas pencalonan kembali Soeharto yang berujung pada pemisahan politik dari kehidupan kampus. Ditandai dengan pembredelan pers kampus, pembubaran dewan mahasiswa, pelarangan buku-buku tertentu serta diberlakukannya NKK/BKK.
Setelah itu, gerakan mahasiswa menemukan jalannya kembali melalui dibentuknya kelompok-kelompok studi atau diskusi serta mulai mengorganisir rakyat.

Nb. Ini sebagian proposal skripsi yang sedang saya susun. Belum diperbaiki memang. Sudah saya buat sejak 2008 lalu. Apa saya sudah lulus? belum juga. Agak bingung (dan kaget tentunya), karena, ternyata.. 2009 kemarin, sudah ada yang melakukan penelitian serupa. Haruskah saya ganti? (kapan gue bisa lulus neh?)
Read More...

I Never Like an Interview


Wew, kamu pasti menganggap penulis kalimat di atas adalah seorang yang sering gagal dalam meraih pekerjaan. Sebenernya, itu adalah kalimat saya. Saya, yang jujur saja. Tidak menyukai interview, hehehe. Kenapa? Jawabnya jelas. Karena saya bukan orang yang pandai berkata kata. Hehehe,, kilasan dalam kepala bergerak terlalu cepat, sedangkan mulut saya tidak terlampau mahir mengiringinya. Seorang kawan bilang, ada yang salah dengan tubuh saya. Dan menganjurkan agar saya melakukan check up sesekali. Ah, saya masih merasa belum waktunya pergi ke dokter. Kawan yang lain bilang, “Dee, masih aja ya lo susah ngomong.. nih (seraya menyodorkan selembar kertas dan pena). Lo tulis aja deh!” Hahahaha


Anehnya, dalam kesesatan interview itu.. Saya justru selalu saja lolos seleksi, aneh ya? Ini bukan sekali – dua saja loh, entah karena apa. Sekedar keberuntungan pemula, saya rasa. Ya, saya adalah pemula dalam segala hal.
Berdasar pengalaman itu, saya mencatat sedikit tips interview buat kamu semua:
1. Kalau bisa kamu interview di saat yang tepat. Jangan saat kamu sedang sakit, atau dalam kasus yang sering saya alami, migrain kumat. Percaya deh, kamu bakalan nggak bisa konsentrasi. Padahal, kamu harus focus. Jika memungkinkan memajukan atau mengundur jadwal wawancara, lakukan saja
2. Kalau besoknya mau wawancara, jangan begadang. Nah, yang ini saya ada banyak pengalaman. Akibat dari begadang ini yang paling kacau adalah menjawab ngaco. Bener-bener ngaco abis! Ini terjadi saat ujian semester sebenarnya. Please guys, don’t do this. Ingat lagunya bang Rhoma, ‘begadang jangan begadang….”
3. Bersikaplah santai. Tapi jangan kelewat santai. Pengalaman mengajarkan saya, agar berada di tengah tengah wilayah antara santai dan formil saja
4. Amati interviewer kamu. Saya pernah dibuat kaget, interview dengan amat sangat santai. Di Starbucks pula. Sebaliknya, kalau interviewer kamu nampak lebih formil, amannya sih kamu ikutan formil juga
5. Jaga kata kata yang keluar dari mulutmu. Interviewer bersikap santai, jangan kebawa suasana. Inget, kamu sedang interview! Dia punya hak yang lebih banyak dibanding kamu. Jangan sampai ada kata kata “gue”, “elo” keluar dari mulut kamu. Kecuali, si interviewer yang mulai duluan. Saya pernah tuh, jiaahhh udah formil bersaya saya ria. Eh taunya, pada pake gue-elo. Capee dehhh.. Tapi, melihat point sebelumnya, cari aman saja dengan berada diantaranya (ini soal etika juga lho)
6. Berpakaian cukup rapi. Hehehe, sebenernya ini paling sering saya langgar (saya terlalu menyukai T shirt dan jeans :D ). Dan, nggak selalu perlu pakai baju warna hitam putih (kayak anak SMK magang aja). Yang jelas, perhatikan aturan dan gaya tempat tujuan kerjamu itu
7. Kalau kamu tidak pernah belajar tentang bahasa tubuh. Saatnya sekarang kamu belajar. Setidaknya pelajari bahasa tubuh yang memancarkan aura positif ke sekitarmu
8. Jangan menunjukkan kebodohanmu. Ini akan membuat si interviewer makin underestimate sama kamu. Kamu bisa melihat ini dari raut wajah interviewermu. Untuk tidak melakukan ini, sebaiknya perhatikan point no. 1 – 3 di atas.
9. Apa lagi yaaa…. Ada ide? Ada yang kurang? Hehehehe. Pada dasarnya, interview adalah situasi dimana kamu menjajakan dirimu pada orang lain. So, jual lah daganganmu itu dengan cara semenarik mungkin. Tujuannya, apalagi kalau bukan agar mereka membelimu.

Celotehan di atas, hanyalah sekelumit isi pikiran saya. Akhir akhir ini, setelah melewati pelbagai interview. Mengurangi tumpukan beban di pikiran :D
Read More...

Sunday, January 3, 2010

Ocehan waktu waktu


Kopi di dalam cangkirku nampak lebih hitam dari malam. Lebih legam. Tapi tetap tak mampu membuatku berjelaga selayak yang dilakukan malam terhadapku. Malam, selalu berarti banyak bagiku. Ia adalah pengingat waktu waktu yang telah lewat. Waktu waktu yang takkan mungkin pernah dilupakan. Selamanya.

Ahh, aku tak pandai mengungkapkannya dalam kata kata. Bukan karena tak mampu. Tetapi karena aku tak bisa. Aku tak bisa. Mengertikah kau? Bahwa aku terbelenggu!!! Ada ikatan rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Ada sumpalan kain hitam di dalam mulutku. Hingga aku hanya bisa berbisik lirih, sangat lirih. Inginnya aku berteriak sekuat tenaga. Sekeras kubisa. Namun aku tak bisa, aku tak boleh.

Maka, kubiarkan waktu waktu yang tadi itu yang berbicara. Karena aku tak bisa. Waktu, ia bisa menjadi temanku. Tetapi berulang kali pula membuktikan diri sebagai musuhku. Musuh abadiku. Waktu waktu, diamnya bukan berarti tak berarti. Aku, kau, dia, kita atau mereka bisa saja dikalahkannya. Seperti aku. Yang dikalahkannya berkali kali. Dengan telak pula. Bodohnya.

Waktu waktu laksana jam pasir saja. Bukan jam dinding apalagi jam digital. Ia sudah disetel waktunya berapa lama. Pasirnya terlihat bergerak lambat. Tapi perlahan kau akan dikuburnya. Rasanya mengerikan, kawan.

Ahh, ceracauku makin tak keruan saja.
Read More...