Gagal itu biasa. Seorang teman saya yang suka berbisnis pernah berkata: “dalam bisnis, gagal, jatuh-bangun, bangkrut, adalah hal biasa. Saya juga pernah gagal, jatuh, tidak sekali-dua malahan. Tetapi apakah saya bisa menerimanya? Bisa kah kita menganggap gagal adalah sesuatu yang biasa?
Kedengaran sederhana dan mudah, tapi ternyata tak semudah itu. Mengapa tak mudah? Karena setelah kegagalan, kejatuhan, semuanya terasa begitu berantakan. Semuanya terasa begitu hancur. Bayangkan saja, andaikata kita politisi yang gagal menang pemilu, pelajar yang tidak lulus UN, wirausaha yang usahanya bangkrut, atau pekerja yang di-PHK. Kegagalan seolah masa depan suram. Salah kah merasa demikian? Saya rasa tidak. Itu ekspesi kecewa yang wajar menurut saya.
Bedanya, ketika sebagian politisi gagal lain masih bisa terus berpolitik tanpa dibebani kekalahannya, pelajar yang kemudian lebih giat belajar untuk ujian ulang, wirausaha yang semangat membangun usahanya dari nol (lagi), atau pekerja yang mengusahakan hak-haknya terpenuhi. Tak jarang, sebagian lainnya justru terlalu lama berada dalam kondisi dan perasaaan gagal itu. Lalu tak mampu melihat apa yang mungkin bisa dilakukan di waktu mendatang. Dan, siapa yang tahu? Apakah kita gagal lagi atau justru kali ini akan berhasil.
Mengapa kita menyerah sekarang? Bukan kah kita tak pernah tahu apa yang akan kita hadapi di masa depan? Hey, kita bisa meraih apa pun yang kita mau. Tunggu saja dan selama waktunya datang, bekerja lah sebaik kita bisa. Semua akan indah pada waktunya, kan?
Life is a beautiful mess
to be continued
Sunday, May 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment