Showing posts with label almost resensi. Show all posts
Showing posts with label almost resensi. Show all posts

Thursday, July 7, 2011

my book review from Nadia

Butuh waktu agak lama bagi saya mengunduh review dari Nadia ini. Berawal dari sebuah email yang mengatakan bahwa Nadia menggunakan buku saya "Cermat Memilih Sekolah Menengah yang Tepat". Saya merasa begitu tersanjung bahwa buku saya bisa bermanfaat bagi profesi psikologi teman saya ini. Berikut saya pindah reviewnya ke bawah ini. Semoga saja apa yang Nadia tulis tidak bias.
Untuk teman-teman yang sedang lagi cari sekolah menengah baik itu SMP, SMA dan sebagainya, pertimbangin deh untuk beli buku Dian ini. Seperti yang kita tahu, dunia pendidikan di Indonesia kan bergerak dengan sangat cepat, sehingga perlu waktu dan usaha yang ekstra untuk mengumpulkan informasi tersebut dengan akurat. Nah, di buku terangkum informasi yang sangat lengkap dan akurat mengenai sekolah menengah yang ada di Indonesia. Di sini dijabarkan dengan jelas apa itu sekolah internasional, nasional plus, sekolah alam, sekolah inklusi, dan lain sebagainya. Mungkin juga teman-teman menemukan jenis sekolah yang belum pernah didengar sebelumnya namun nampaknya sesuai dengan yang teman-teman inginkan. 

Tidak hanya untuk anak remaja, buku ini juga berguna lho bagi orang tua dengan anak remaja, guru, dan konselor untuk memberikan arahan kepada anak didiknya.  Buku ini dibuat dengan sangat komprehensif, namun bahasanya mudah dipahami. Dian benar-benar total dalam melakukan researchnya, bahkan sampai ada wawancara juga dengan pihak sekolah yang bersangkutan. Jadi keakuratan datanya tidak perlu ditanyakan lagi, karena kamu akan mendapat mendapatkan apa yang kamu ingin ketahui mengenai sekolah menengah di buku setebal 219 halaman ini. 

- Nadia
Penulis dan Mahasiswa S2 Profesi Psikologi
Read More...

Wednesday, January 13, 2010

Sometimes in April

Sometimes in April when the rain falls down. Sometimes in April when this land so wet, with rain, tears and blood.


Sometimes in April adalah sebuah pengingat. Pengingat bahwa peristiwa mengerikan pernah terjadi di bumi ini.

Rintik hujan di luar semakin deras. Sesosok lelaki berbadan tegap dan berkulit gelap berdiri di depan sebuah papan tulis hitam. Di hadapannya, duduk anak anak yang juga berkulit legam sepertinya. Seorang gadis kecil bertanya, “tak bisakah peristiwa itu dihentikan?” (kurang lebih nanyanya itu, gue lupa soalnya, hehe). Sang guru terdiam. Kemudian, di deret bangku sebelahnya, seorang gadis kecil hitam lainnya menanggapi bahwa itu adalah masa lalu yang telah lalu. Sebuah ungkapan, tentang “how to deal with the past?”

Sometimes in April, sebuah film tentang pelanggaran HAM berat. Terjadi di Rwanda tahun 1994. Tragedi kemanusiaan yang menewaskan sekitar 900.000 jiwa hanya dalam hitungan 100 hari. Bayangkan! bahkan kelahiran seorang manusia tidak terbentuk dalam waktu 90 hari saja. Film ini memang kalah popular dibandingkan Hotel Rwanda, yang saya dalam berbagai kesempatan menontonnya berulang kali. Juga film film seperti Shooting Dogs atau Shake Hands with the Devil, keduanya saya belum sempat nonton, hehe. Sometimes in April pun kebetulan jadi film yang saya dan teman teman tonton saat ikut pelatihan di Komnas HAM. Mungkin film ini seperti Imagining Argentina (salah satu film favorit saya), yang anehnya kenapa tidak banyak ditonton orang. Lain waktu saya akan cerita tentang film Antonio Banderas ini.

Sometimes in April diambil dengan sudut pandang korban, a survivor. Lelaki tegap yang di awal muka tadi berdiri di depan kelas. Seorang guru yang ternyata dulunya adalah tentara, yang menikahi perempuan suku Tutsi. Suku dimusuhi oleh suku sebangsanya sendiri. Suku yang dipanggil dengan sebutan "kecoak". Sebagai survivor, lelaki itu (namanya lupa ^^) belum bisa menyembuhkan trauma hebat yang dialaminya. Kehilangan anak dan istri menjadi pukulan yang lebih kuat daripada tinjunya Mike Tyson (halaah!). Yup, 10 tahun telah berlalu. Lelaki itu bahkan sudah hidup bersama perempuan lain, juga korban. Hingga sebuah surat membawanya ke sebuah kota, Arusa…kota dimana pengadilan HAM ad hoc dilakukan terhadap para pelaku. Salah satunya, adik kandungnya sendiri.

Adik kandungnya, seorang wartawan radio (Radio Television Libre des Mille Collines/RTLM). Diduga dan memang dalam film itu diceritakan terlibat dalam pembantaian tahun 1994 itu. Ironisnya, justru dengan cara kerja jurnalistiknya. Penghasutan besar besaran agar suku Tutsi dihabisi dari tanah Rwanda. Kebebasan pers yang kebablasan? Ah, saya tak pernah suka istilah itu. Pers memang harus bebas. Walaupun jelas tidak mungkin bebas nilai. Tapi apa saya membenarkan penggunaan pers sebagai media agitasi pembantaian massal tersebut? Jangan bercanda, saya pikir wartawan itu harusnya ikut training HAM dulu, hueheheh.

Hmm, tulisan ini nampaknya tidak ada analisis HAMnya sama sekali ya, hehehe. Lain waktu saja ya, saya kali ini hanya ingin bercerita tentang film ini. Well, Perang saudara memang selalu mengerikan, kawan. Read More...

Sunday, January 3, 2010

Jawabannya (Mungkin) Memang Cinta..



Seorang teman lama bercerita, "pacaran sama dia kagak ada untungnya nih buat gw..". Seketika saya tersadar, ternyata logika pasar sudah merasuk bahkan dalam hubungan yang katanya atas nama cinta.

Bicara tentang cinta terasa tak ada habisnya, seperti banyak digelar sepanjang bulan Februari lalu. Mulai dari meriahnya suasana perbelanjaan yang tiba-tiba berwarna pink semua, acara televisi, majalah, hingga ruang seminar dan diskusi. Banyak orang menganggap bahwa sebagai salah satu misteri dalam hidup. Bahkan karena terlalu abstraknya, cinta agak sulit untuk diteorikan. Salah seorang tokoh yang telah mencoba menelaah cinta adalah Erich Fromm dalam salah satu bukunya "The Art of Loving" yang pertama kali terbit tahun 1959.

Dalam buku mungil setebal 218 halaman ini, Fromm mengawali pandangannya dengan mempertanyakan apakah cinta itu suatu seni? Ataukah cinta hanyalah sebentuk perasaan menyenangkan yang datang secara kebetulan? Buku yang ditulis berdasarkan premis pertama tersebut, mengartikan bahwa jika demikian halnya maka harus dimengerti dan diperjuangkan. Seperti dalam hidup, berjuang dalam cinta sama sekali bukan hal mudah.

Hal ini berbeda dengan pandangan mayoritas orang sekarang yang lebih mementingkan bagaimana untuk dicintai, bukan mencintai. Ini yang lalu membuat orang berlomba-lomba membuat dirinya dicintai, laki-laki maupun perempuan. Si laki-laki giat bekerja keras agar mapan, sukses, nampak terhormat, selalu bersikap menawan sehingga semakin diminati. Sedangkan perempuan, dengan segala cara mempercantik diri agar selalu menarik. Yang paling parah dari semua ini adalah ketika perasaan jatuh cinta tidak lebih dari relasi produsen dan konsumen. Perasaan (yang dianggap) cinta muncul karena ada komoditas yang dapat dipertukarkan. Dengan kata lain, relasi cinta manusia bersesuaian dengan prinsip pasar.

Namun, jika kita berpendapat bahwa cinta adalah sebuah seni, maka langkah selanjutnya untuk menjadi seorang pecinta yakni dengan menguasai teori dan prakteknya. Fromm memulai teori cinta ilmiahnya dengan mengatakan bahwa cinta adalah jawaban atas problem eksistensi manusia. Sejak kelahiran manusia ke dunia dan menyadari bahwa dirinya adalah "aku", yang berbeda. Kalau dalam konsepnya Lacan ini berada dalam fase apa yaa?? lupaa.. Nah, peristiwa ini menimbulkan kecemasan yang luar biasa dalam diri manusia. Guna mengatasinya, manusia menceburkan diri dalam aktivitas yang mampu membuatnya terlepas dari kesendirian itu. Sayangnya, itu hanyalah sementara.

Fromm juga membagi cinta ke dalam beberapa jenis dan membedakan masing-masingnya. Jenis cinta tersebut adalah cinta orang tua dan anak, cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotis, cinta diri, dan cinta Tuhan.

Di akhir bab buku ini, Fromm merumuskan tips praktek mencintai, diantaranya disiplin, kesabaran, serta perhatian penuh. Meski berjudul praktek, nampaknya belumlah se-praktis yang mungkin dipikirkan orang. Kenyataannya, praktek mencintai berdasar tips praktek cinta ala Fromm bisa sangat berbeda pada tiap orang. Sebagai filsuf yang juga psikolog, membaca buku ini terasa bukan sekedar mengobati jiwa tetapi mencerahkan pikiran. Diselingi kisah dan kutipan syair membuat buku ini terasa bukan sekedar buku psikologi ataupun filsafat. Akhirnya, bagi saya, Fromm memang hanya memberikan amunisi dan tetap kita lah penentunya.

Melihat semakin banyaknya kekerasan terjadi, pelanggaran hak asasi manusia, atas nama apapun…buku ini layak dibaca. Karena jawabannya (mungkin) memang cinta.

Nb. Oiya, beberapa tahun lalu, buku ini agak sulit diperoleh. Saya bahkan harus datangi hampir semua toko buku besar yang ada di Depok. Ehh,, ternyata malah didapat di sebuah toko buku kecil yang agk nyempil, hehehe. Sekarang buku ini malah saya nggak tahu ada dimana, nyempil dimana, di rumah siapa.... Read More...

Tuesday, October 13, 2009

how long would u wait for love ??


Menambahkan satu lagi postingan tentang cinta :)Tahun 2008 lalu saya nonton film yang bercerita tentang cinta, film yang cukup menyadarkan meski terkemas agak membosankan. "Love In the Time of Cholera" adaptasi novel laris Gabriel Garcia Marques yang berlatar akhir abad 19. Hampir sepanjang cerita menceritakan perjalanan waktu penungguan demi cinta. Akh, penungguan demi cinta… cinta yang datang sekedipan mata namun tak bisa hilang puluhan tahun lamanya. Tidak berbeda dengan roman percintaan yang lain, kisah cinta mereka harus berakhir karena alasan perbedaan status sosial ekonomi (klasik banget yah?). 

Kalau pernah nonton "the Notebook" pasti merasa bahwa "Love In the Time of Cholera" tidak banyak berbeda. Alur cerita keduanya mundur dengan ending dramatis ala kisah cinta sejati, bahagia dan abadi hingga mati. Bedanya, "The Notebook" memberikan ending yang lebih mengejutkan. 
Awalnya, ada sepasang kekasih yang jatuh cinta namun dipisahkan secara paksa. Si gadis akhirnya menikah dengan seorang dokter yang ditemuinya ketika sakit dan dikira terkena wabah kolera. Seperti judulnya, kisah cinta itu memang berlatar kondisi yang sedang diserang kolera. Pandemi yang mematikan. Meski menurutku, latar kolera ini tidak banyak diperlihatkan. (Sehingga mudah banget buat kita lupa kalau ada unsur kolera koleranya, hehehe. Beda dengan cerita cinta satunya lagi. Yang ada wabah Pesnya. Wah lupa judulnya apa...)

Si gadis pun hidup bahagia bersama suaminya yang dokter itu. Sedangkan si laki laki yang bekerja sebagai pengantar telegram terjebak dalam kegilaan cinta di desa kecil tempatnya tinggal bersama sang ibu. Jujur, di awal cerita aku menaruh simpati atas hidup si lelaki. Aku melihatnya sebagai karakter 'agak bodoh' yang tidak mampu melanjutkan hidup. Sementara si perempuan sudah menikah dan tampak bahagia. Di sisi lain aku merasa tertampar karena keberaniannya menunggu cinta sedemikian lama. Sebuah kualitas yang mungkin (tidak) dapat ditemukan hari ini. 

Pengalaman didiskriminasikan karena status sosial ekonomi membuatnya sekuat tenaga mengubah kondisinya itu. Tetapi ia tak pernah berhasil mengambil kekasihnya kembali. Dan selama perjalanan hidupnya yang panjang, dilewatinya dengan beragam pengalaman seks tanpa cinta. Akhirnya, kita diajak mengingat kembali adegan awal film. Saat seorang laki laki tua jatuh dari atas pohon yang dipanjatnya gara gara seekor burung. Dialah sang dokter, suami gadis itu. Itulah kabar gembira bagi si laki laki. Datanglah ia kepada gadis pujaan hatinya itu, seorang nenek nenek (sumpah, gue pengen ketawa). Adegan selanjutnya, nampaklah mereka berpesiar bersama. Sepasang kekasih yang baru bisa bersama setelah mereka renta.


Pelajaran penting : seks tidak ada hubungannya dengan cinta. Namun cinta mampu mengubah seks menjadi tidak sekadar transaksi kelamin. Jadi,  sedikit mengutip Beauvoir dan Gie, hanya cinta yang mampu membebaskan seks dari ekspoitasi jenis kelamin. Akhirnya, cinta melampaui segala yang fisik, yang terlihat. cinta menjadi entitas yang begitu transenden. Cinta mengabaikan usia, kerut-kerut, status sosial ekonomi, bahkan seks. 

Nb. Selamat menonton buat yang belum... Epung, makasih pinjeman dvd-nya. Read More...